Temu Ilmiah Nasional IPS Bandung 2016

Poster Temu Ilmiah Nasional 2016 1 Untuk Memperbesar klik Gambar

 

Jadwal Kegiatan Temilnas dapat di download melalui link berikut: Klik disini

 

Ikatan Psikologi Sosial Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, dan Fakultas Psikologi Universitas Jendral Ahmad Yani

 

Call for paper:

 

Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Sosial Indonesia.

“Peran Psikologi Sosial dalam menjawab Tantangan Bangsa”

 

Indonesia saat ini sedang mengahadapi tantangan Masyarakat Ekonomi Asean dan  tantangan pasar bebas dunia, sebagai bangsa ke depan kita tidak hanya mengahadapi masalah ketahanan dan jati diri bangsa, tapi juga kualitas sumber daya manusia. Kita dihadapkan pada relasi antar bangsa di dunia saat ini yang tidak hanya kompetitif tapi juga saling tergantung (interdependency). Untuk itu usaha menggali  potensi diri bangsa menjadi penting. Potensi yang dibangun harus memperhatikan daya saing dan tetap bertumpu pada kekuatan dari kearifan lokal yang kita miliki.

Membangun bangsa yang kuat pada hakekatnya harus mampu memberdayakan individu-individu, keluarga, serta pelbagai kelompok sosial melalui partisipasi aktif masyarakat. Yaitu melalui proses pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa melalui mekanisme sistem input-output. Semangat keterlibatan aktif seluruh komponen bangsa harus dapat didukung oleh sistem yang handal (robust system) sehingga dapat menciptakan kondisi masyarakat yang kuat dalam hal kesejahteraan, ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Psikologi sosial sebagai ilmu yang mempelajari dan mengerti bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertingkah laku dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya  seharusnya punya kontribusi yang besar dalam hal ini. Riset dan aplikasi psikologi sosial dalam konteks ini seharusnya memberikan sumbangan nyata dalam rangka mendukung dan memperkuat partisipasi aktif seluruh kelompok masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Untuk itulah Ikatan Psikologi Sosial Indonesia mengajak para peneliti dan praktisi dalam bidang psikologi sosial dan yang terkait (misal; ekonomi, hukum, sosiologi, antropologi, politik, kriminologi, social worker, dsbnya)  untuk berpartisipasi dalam temu ilmiah nasional IPS. Silahkan kirim abstrak anda ke website Temu Ilmiah IPS Maksimum 200 kata. Abstrak dapat berupa hasil  penelitian, hasil reviu teori dan gagasan maupun pengalaman praktikal. Informasi dan pertanyaan dapat disampaikan kepada panitia melalui imel temilnasipsbandung2016@gmail.com.

Temu ilmiah kali ini berbeda dengan sebelumnya, dimana pada temu ilmiah IPS di Bandung 2016 selain call for paper untuk temu ilmiah dan workshop, kali ini juga dilaksanakan Summer School IPS I 2016. Untuk informasi Summer School klik : di sini

 

Tujuan Temu Ilmiah, Workshop dan Summer School:

  1. Guna mengetahui perkembangan hasil penelitian, hasil pemikiran dan berbagai permasalahan sosial terkini beserta pemecahan masalahnya, juga berbagai kebijakan publik yang terkait tentangnya, sekaligus kontribusi psikologi sosial di dalamnya.
  2. Guna meningkatkan wawasan dan pengetahuan keilmuan baik teoritis maupun praktis, serta kerjasama antar sesama peneliti dan pemerhati masalah psikologi sosial di Indonesia, baik secara individu maupun kelembagaan.
  3. Guna meningkatkan kemampuan riset dan publikasi para peneliti muda dalam program riset kolaborasi yang dibimbing oleh mentor yang ahli di bidang kajian Psikologi Sosial.

 

Peserta Temu Ilmiah, Workshop dan Summer School

  1. Para peneliti dan akademisi di bidang Psikologi Sosial dan yang terkait (misal ekonomi, hukum, sosiologi, antropologi, politik dan kriminologi), juga Psikologi pada umumnya.
  2. Para praktisi di bidang psikologi sosial dan kemasyarakatan.
  3. Para praktisi psikologi sosial di organisasi perusahaan.
  4. Para praktisi psikologi sosial dan yang menangani masalah-masalah sosial di pemerintahan dan kepolisian.
  5. Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanganan masalah sosial dan kemasyarakatan.

 

FORMAT ACARA: Call for Papers

Plenary Session

Merupakan sesi panel yang dihadiri oleh seluruh peserta temu ilmiah dengan pembicara dari keynote speaker. Acara akan dipandu oleh seorang moderator. Plenary session bisa terdiri dari dua orang pembicara atau satu pembicara undangan.

Invited Symposium Session

Merupakan sesi paralel 3 forum dalam kelas medium, yang merupakan invited symposium dari kelompok Working Group IPS. Satu forum akan diisi oleh pemakalah dari para peserta kelompok riset yang terdiri dari tiga pembicara dalam satu sesi, satu pengusul dan satu pembahas yang akan ditunjuk oleh SC.

Paper Session

Merupakan sesi paralel yang dapat terdiri dari 5-6 forum. Satu forum akan diisi oleh pemakalah dari para peserta call for papers yang terdiri dari tiga pembicara dalam satu sesi. Diskusi akan dipandu oleh seorang moderator yang ditunjuk oleh panitia.

Poster Session

Merupakan sesi khusus yang disediakan di sela-sela waktu pergantian presentasi makalah. Peneliti akan melakukan sesi tanya jawab dengan para pengunjung pameran poster berkaitan dengan hasil penelitiannya dalam sesi ini.

 

PROGRAM: Temu Ilmiah

Opening Remark:

  • Ridwan Kamil (Walikota Bandung) *

 Keynote Speaker:

  • Roby Muhamad, Ph.D (Akademi Ilmuwan Muda Indonesia)
  • Dr. Henndy Ginting, M.Si., Psikolog (Universitas Kristen Maranatha)
  • Dr. Irene O. Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog (Universitas Kristen Maranatha)

Invited Speaker:

  • Dr. Zainal Abidin (Universitas Padjajaran)
  • Dr. Bagus Takwin (Universitas Indonesia)
  • Dr. Avin Fadilla Hilmi (Universitas Gadjah Mada)
  • Dr. Neila Ramdhani (Universitas Gadjah Mada)
  • Dr. Mirra Noor Milla (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
  • Dr. Phil. Idhamsyah Eka Putra (Universitas Persada Indonesia)

Scientific Committee

  • Prof. Koentjoro, M.Bs., Ph.D (Fakultas Psikologi UGM)
  • Prof. Dr. Zulrizka Iskandar, M.Sc. (Fakultas Psikologi UNPAD)
  • Dr. Arief Budiarto, DSS (Fakultas Psikologi UNJANI)
  • Dr. Avin Fadilla Hilmi  (Fakultas Psikologi UGM)
  • Dr. Zainal Abidin (Fakultas Psikologi UNPAD)
  • Dr. Bagus Takwin (Fakultas Psikologi UI)
  • Dr. Mirra Noor Milla (Fakultas Psikologi UIN Riau)

 

Tema Temu Ilmiah Nasional:

  1. Perdamaian
  2. Leadership
  3. Prososial
  4. Well-being
  5. Religiusitas
  6. Harm reduction
  7. Korupsi
  8. Terorisme dan Radikalisme
  9. Perilaku Politik
  10. Relasi Interpersonal
  11. Kelompok dan Interaksi antar Kelompok.
  12. Seni budaya
  13. Hak asasi manusia
  14. Konflik sosial
  15. Anak dan remaja
  16. Kriminalitas
  17. Alkulturasi
  18. Psikologi lalu lintas dan transportasi
  19. Indigenous
  20. Intervensi sosial
  21. Psikologi gender
  22. Psikologi lingkungan
  23. Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat
  24. Addiction

 

Tanggal-tanggal Penting:

  • First submission (Gelombang I): 1 Juni – 15 Agustus 2016
  • Pengumuman Gelombang I: 1 September 2016.
  • Second submission (Gelombang II): 5 September – 5 Oktober 2016.
  • Pengumuman Gelombang II: 15 Oktober 2016.
  • Temu Ilmiah dan Workshop : 3-5 November 2016

 

Tempat : Universitas Kristen Maranatha Bandung

 

NB:

  1. Akan dilakukan pemilihan BEST PAPER AWARD, bagi presenter terbaik akan direkomendasikan untuk publikasi ke jurnal ilmiah nasional terakreditasi dan peserta juga akan mendapat sertifikat penghargaan.
  2. Submit abstrak (150-300 kata) dalam format Word (DOC/DOCX) dan kirimkan ke: temilnasipsbandung2016@gmail.com

 

CP:

  • Retno Hanggarani Ninin 087825523250
  • Kristin Rahmani 08112233006

 

Brosur kegiatan dapat dilihat pada link berikut:  Brosur Depan dan Brosur Belakang

*) dalam konfirmasi

Menggagas Terrorism Early Warning Pasca Teror Jakarta

Mirra Noor Milla

BIN dan polisi dianggap kecolongan dalam peristiwa teror Jakarta 14 Januari lalu. Sebenarnya, kemungkinan terjadiserangan teroris di Indonesia sejak akhir tahun 2015 telah diungkapkan oleh  Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian. Kapan dan dimana serangan teroris dieksekusi menjadi sulit diprediksi karena Indonesia belum memiliki sistem deteksi dini ancaman terorisme atau Terrorism Early Warning System (TEWS). Kebutuhan akan TEWS saat ini menjadi penting disebabkan kelompok teroris telah semakin canggih menggunakan teknologi internet serta operasi yang bersifat global dan lintas negara. Pergerakan mereka tidak lagi memadai dideteksi melalui pengintaian secara fisik semata.

TEWS perlu karena adanya kebutuhan koordinasi dengan negara-negara lain tempat singgah anggota jaringan teroris. John P. Sullivan dan James J. Wirtz, yang mengganggas TEWS di USA, menjelaskan bahwa TEWS dapat menjembatani kesenjangan antara upaya organisasi penegak hukum domestik dan badan-badan intelijen asing untuk memerangi ancaman teroris. Konsep TEWS initelah diterapkan di USA sebagai respon atas serangan teroris 11 September. Dasar dari TEWS menurut Sullivan dan Wirtz adalah investigasi penghubung, komando terpusat, analisis dan sintesis yang mengarah pada konsekuensi manajemen dan didukung oleh forensic intelligence, serta epidemiological intelligence.

Terrorism Early Warning System (TEWS)

Sintesis dan analisis yang dilakukan dalam TEWS berdasarkan transaksi siklus analisis atau Transaction Analysis Cycle (TAC) yang meliputi analisis pengenalan tanda-tanda, analisis kecenderungan dan potensi, serta analisis kapabilitas dan intensi. Inti dari TEWS adalah proses mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber dan multidisiplin untuk kemudian dilakukan analisis yang terupdate tentang level bahaya teroris yang mengancam, baik ditingkat wilayah, lokal, nasional hingga regional.

Saya tidak akan membahas TEWS secara teknis dari sisi Ilmu Intelejen atau Keamanan, tapi saya akan menjelaskan urgensi TEWS dari perspektif Psikologi Sosial yaitu dinamika kelompok teroris, sesuai dengan bidang keahlian saya. Sebagai wacana TEWS penting untuk ditindaklanjuti. Serangan teror Jakarta berdasarkan pernyataan pihak berwenang, merupakan aksi yang didalangi oleh Bahrun Naim, kombatan asal Indonesia di Suriah melalui pesan media sosial Telegram (CNN Indonesia, Kamis, 14/01/201). Peristiwa tersebut kembali menunjukkan bagaimana media sosial dan  internet memainkan peran penting dalam penyebaran ideologi radikal.

Banyak orang percaya bahwa teroris menggunakan cara-cara canggih dalam perencanaan aksi hingga sulit dideteksi. Sebenarnya kelompok teroris justru menggunakan metode orang biasa, membaur di tengah masyarakat. Mereka menggunakan teknologi internet yang juga digunakan orang banyak, untuk rekrutmen, indoktrinasi, hingga berlanjut ke pembentukan sel-sel aktif. Semua itu dilakukan hampir sama persis dengan cara orang berjualan online. Bahrun Naim, bahkan memposting semua pesan-pesannya yang ditujukan kepada pada pendukung ISIS di internet, mulai dari strategi, cara merakit bom, meretas web dan lain-lain. Demikian juga dengan Oman Abdurrahamn, sang amir, sangat rajin mengunggah tulisan dan ceramahnya dalam blog pribadinya dari balik jeruji besi.

Tahapan Analisa TEWS

Langkah awal yang harus dilakukan dalam TEWS adalah mengidentifikasi para pendukung ISIS di Indonesia dan mereka yang telah tergabung di Suriah serta transaksi jejaringnya. Keberadaan kelompok ini dapat diidentifikasi dari ciri ideologinya. Kelompok ini merupakan kelompok yang mudah mengkafirkan, (takfiriyah). Tidak sependapat dengan kelompoknya dianggap kafir. Mereka juga cenderung ekslusif, tidak bersedia berbaur, bahkan dalam melakukan aktivitas ibadah seperti sholat berjamaah. Anggota kelompok pendukung ISIS di Indonesia hanya tunduk pada perintah Oman Abdurrahman.

Analisis tanda dan transaksi dapat dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi tentang aktivitas kelompok yang tersedia di internet, data intelejen maupun data dari Kepolisian (Detasemen Khusus anti Teror). Data dari internet menjadi penting, karena keberhasilan kelompok ini dalam merekrut anggota banyak memanfaatkan teknologi internet.Para perekrut ISISer di Indonesia sangat piawai meretas web, dan sigap memanfaatkan komunitas-komunitas diskusi agama di social media.

Analisis transaksi dapat berguna untuk melihat pola relasi para pendukung ISIS yang tersebar dalam berbagai kelompok baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Para ISISer menyakini bahwa Suriah adalah “Syam”, kekhalifahan Islam yang dijanjikan akan muncul dan kembali berjaya di akhir jaman. Hal ini menjadikan para pendukung ISIS dengan berbagai upaya berusaha hijrah ke Suriah. Potensi dan kecenderungan meningkatnya ancaman teror dapat dianalisis dari proses mobilisasi para kandidat bergabung ke kelompok aktif.

Dari sisi kapabilitas, kelompok pendukung ISIS di Indonesia kebanyakan belum memiliki pengalaman tempur, berbeda dengan mantan kombatan Afghanistan dan Moro yang pernah melakukan aksi teror bom di Bali. Dalam hal ini, analisis intensi dan kapabilitas terhadap kelompok pendukung ISIS di Indonesia belum sampai ke level merah. Kehadiran mantan kombatan dari Suriah akan menjadikan kelompok pendukung ISIS di Indonesia menjadi semakin kuat, meningkat kapabilitasnya.Konsekuensinya kecenderungan dan intensi akan semakin meningkat.

Terorisme sebagai chaostic war

Akhirnya, terorisme sebagai chaostic war merupakan strategi perang dari kelompok-kelompok yang memiliki sumber daya terbatas dan tidak seimbang dengan lawannya. Motivasi dari kelompok ini bersifat hybrid,cross-category dari berbagai persoalan. Sehingga penanganan konflik jenis ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak, mulai dari pihak berwenang, pengambil kebijakan dan para ahli. Baik di bidang hukum, sosial dan keagamaan, IT, politik, keamanan, serta intelejendalam satu lembaga yang mengelola data-data yang relevan dan ter-update untuk dilakukan  analisis secara berkala.

Saya jadi teringat kembali peristiwa awal tahun 2009, beberapa hari sebelum pelaksanaan eksekusi mati tiga terpidana Bom Bali di Lapas Batu Nusakambangan. Imam Samudra menyampaikan kepada saya yang saat itu tengah melakukan wawancara terakhir untuk penelitian disertasi saya, “berjihadlah melalui internet. Kuasailah internet untuk memenangkan peperangan”. Barangkali pesan yang sama juga disampaikan Imam kepada Bahrun Naim, pengikut setianya, yang diduga memiliki peran penting dalam aksi teror 14 Januari 2016. Sudah siapkah kita mengantisipasinya?